Kenyamanan bukanlah jaminan kebahagiaan. Ada hal-hal yang harus dilampaui lebih dari itu. Mungkin sesuatu yang harusnya ada tetapi tersembunyi atau disembunyikan. Peluh keringat diperjuangkan. Demi hak yang harus tersalurkan. Modern ini, belum selesai. Aku, kau maupun dia masih harus cerdas. Cerdas dalam mempertahankan meski tertahan, cerdas dalam memperjuangkan meski harus kelelahan. Itu bukan apa-apa. Bukan apa-apa dibandingkannya.
Perayaan bukanlah berleha-leha, bukanlah upacara adanya. Ini adalah wadah. Tempat mengingat, tempat membuka memori-memori perjuangan. Bersama semangatnya kita bawa hak wanita. Kita songsong wanita cerdas bukan ngepas. Habis gelap terbitlah terang, dan jagalah tetap terang.
21 April bukan hanya saja saat dimana mengenang perjuangan seorang Kartini. Tepatnya adalah momentum mengingatkan para perempuan akan kelebihan dan potensi yang dimilikinya. Sehingga potensi tersebut dapat tersalurkan sebagaimana harusnya. Seperti ucapan dari Putri Indonesia favorit Jawa Tengah Mega Prabowo, bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai keinginannya apabila ia belum matang dalam persiapan. Maka perempuan sejatinya harus bisa mempunyai potensi yang dikembangkan.
Satu hal yang pasti. Menjadi wanita yang memperjuangkan tak harus menjadi seorang Putri Kartini. Karena, semua wanita adalah Kartini yang harus membela haknya tanpa meninggalkan kewajibannya. Kesetaraan tak akan terjadi apabila wanita tersebut tak menginginkannya. Maka, jadilah pelopor bukan pengekor, jadilah pejuang bukan pendulang
Sabtu, 22 April 2017
Semarak Kartini 2017 "Perempuan Berkarya" Universitas PGRI Semarang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar