Selasa, 25 April 2017

Cerpen singkat motivasi

                           Dalam Diam
                  ( Sintiya Dwi Yuniati )
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
           Universitas PGRI Semarang

    Malam ini merupakan malam terakhir Dr. Hana praktik di desa Mangunharjo. Aisyah masih menemani Dr. Hana mengemasi barang yang akan dibawa ke Jakarta pulang nanti. Bu Titin dan Pak Karno berada di ruang tamu tengah menikmati tontonan reality show di televisi. Sesekali Bu Titin masuk ke dalam melihat apakah Dr. Hana dan Aisyah telah selesai mengemasi barang atau belum. Dr. Hana sudah satu bulan praktik di desa Mangunharjo. Selama sebulan ini Dr. Hana menginap di rumah Pak Karno dan Bu Titin yang merupakan orang tua dari Aisyah. Aisyah adalah anak tunggal mereka. Aisyah sangat antusias dengan adanya Dr. Hana. Ia merasa Dr. Hana bisa menjadi tempat bertanyanya mengenai kedokteran. Begitu pula Dr. Hana, ia menganggap Aisyah sebagai adiknya. Jarum jam menunjukan pukul 19.30, Dr. Hana dan Aisyah keluar dari kamar. "Sudah selesai Dok?", Tanya Bu Titin. "Sudah bu. Untung ada Aisyah yang membantu", jawab Dr. Hana. Dr. Hana langsung menempatkan diri di kursi panjang dekat dengan Bu Titin. Aisyah langsung mengikuti dan duduk dekat Pak Karno. Mereka berbincang-bincang santai sambil menikmati sepiring pisang goreng yang Bu Titin buatkan khusus untuk malam perpisahan Dr. Hana. Mereka tampak akrab satu sama lain. Keluarga Pak Karno yang hangat membuat Dr. Hana enggan cepat-cepat pergi dari desa Mangunharjo. Aisyah yang sudah sangat akrab juga tampak tak rela kalau Dr. Hana kembali ke Jakarta.
     Pagi ini acara pelepasan Dr. Hana kembali ke Jakarta. Di depan balai desa yang sekaligus menjadi tempat praktiknya, Dr. Hana tengah memberi ucapan salam perpisahan kepada para warga yang hadir. Mereka rata-rata adalah pasien yang pernah datang. "Terimakasih atas keramahan Bapak, Ibu sekalian yang telah membantu saya dalam menjalankan tugas. Semoga sebulan saya di sini ada manfaat yang bisa Bapak, Ibu sekalian rasakan. Mohon maaf bila saya tidak membantu secara maksimal. Dan terakhir, saya sangat mengucapkan terimakasih kepada keluarga Pak Karno yang bukan hanya memberikan saya tumpangan tidur. Namun juga keluarga yang sangat hangat", ucap Dr. Hana dalam perpisahannya.
     Pikiran Aisyah tertuju pada desanya yang sedang melakukan acara perpisahan bersama Dr. Hana. Ia ingin sekali datang di acara itu. Namun Dr. Hana melarang Aisyah untuk membolos. Ia tak mau Aisyah menjadi anak yang tidak bertanggung jawab terhadap tanggung jawabnya. Aisyah yang kini duduk di SMA kelas 3 sangat mengidolakan Dr. Hana semenjak kedatangannya di rumahnya. Ia melihat sosok tulus dan mengabdi dalam diri Dr. Hana. Sesekali ia membantu di klinik, membuatnya terketuk mengikuti jejak sang dokter.
     Malam ini terasa sepi. Raut wajah Aisyah seperti tak biasanya. Seperti ada yang hilang dari dirinya. Dan itu pastilah karena kepulangan Dr. Hana. "Kenapa Kamu nak? Kenapa mukamu seperti sedang ada masalah?", tanya Bu Titin sembari membawa segelas kopi. "Tidak apa-apa, Bu. Aisyah hanya sedang membayangkan sesuatu", jawab Aisyah. "Apa yang kamu bayangkan nak?", bu Titin penasaran. "Aisyah sedang membayangkan kalau Aisyah bisa menjadi dokter seperti Dr. Hana. Rasanya pasti luar biasa. Iya kan, Bu?", jelas Aisyah. Perkiraan Bu Titin tepat. Ia tahu pasti anaknya Aisyah sedang memikirkan tentang Dr. Hana. Bu Titin hanya tersenyum mendengar penjelasan anaknya. Bahkan ia tak sempat menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan Aisyah. "Tidak bisa!", tiba-tiba suara Pak Karno yang keluar dari kamar sambil membuka korden memecah suasana hening tadi. Aisyah kaget. Bu Titin langsung meletakan kopi di atas meja dan duduk di samping Aisyah. "Maksud Bapak apa? Kenapa Bapak tiba-tiba bilang tidak bisa?", tanya Bu Titin heran. Raut wajah Aisyah berubah. Ia mengerutkan dahi pertanda menunggu jawaban dari bapaknya. Wajahnya memerah seakan sudah menebak apa yang akan dikeluarkan bapak dari mulutnya. "Nak, kamu tahu kan kita ini hidup pas-pasan. Bapak hanya satpam di sekolah dasar. Ibumu terkadang sakit-sakitan. Mana mungkin Bapak membiayaimu sekolah di kedokteran yang terkenal sangat mahal?", pak Karno menjelaskan dengan pelan sembari menduduki kursi tempat biasanya ia duduk. Aisyah hanya terdiam. Ia sadar bahwa ia bukanlah dari keluarga berada. Bu Titin pun tak berkata apa-apa. Ia hanya bisa memeluk sang anak. Ia tahu Aisyah sangat terpukul dengan penjelasan bapaknya.
     Setelah mendengar ucapan bapaknya, Aisyah bertekad belajar semaksimal mungkin agar ia dapat berprestasi dan mendapatkan beasiswa. Hal tersebut adalah satu-satunya yang bisa membawanya kuliah di kedokteran. Setiap hari tak lupa ia selalu membuka buku pelajaran terlebih mengenai materi soal ujian masuk perguruan tinggi ke kedokteran. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Aisyah bersemangat. Banyak jalan menuju Roma. Pepatah yang selalu diingatnya demi cita-cita yang ingin dicapai.
     Ujian sekolah telah usai beberapa waktu lalu. Ujian-ujian masuk perguruan tinggi baik melalui sekolah maupun mandiri telah diikuti Aisyah. Namun takdir berkata lain. Aisyah selalu gagal masuk. Ia Heran. Prestasinya di sekolah cukup baik. Ia selalu belajar keras bila akan menghadapi ujian. Tetapi mengapa ia selalu gagal. Pikirnya dalam hati.
     Ia menjadi teringat dengan orang tuanya. Selama ini, ia tak pernah memberitahu Bapak, Ibunya bahwa ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Aisyah merasa bersalah. Ia merasa bahwa dirinya egois. Akhirnya ia memberanikan diri memberitahu orang tuanya. Mendengar penjelasan anaknya, Pak Karno dan Bu Titin kaget. Terutama Pak Karno. Rasanya ia ingin marah namun tak kuasa. Malam itu juga Aisyah meminta restu kepada Pak Karno dan Bu Titin agar ia dapat diizinkan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk terakhir kalinya dengan pilihan kedokteran. Pak Karno langsung menampakan raut wajah ketidaksetujuannya. "Bapak tidak akan setuju kalau kamu kuliah di kedokteran. Sudah berapa kali Bapak bilang!", cetus Pak Karno. "Bapak jahat. Aisyah tak pernah meminta apa-apa pada Bapak. Hanya ini pak! Aisyah ingin kedokteran bukan karena keinginan Aisyah semata. Aisyah juga ingin Bapak, Ibu bisa bangga mempunyai anak seorang dokter!", Aisyah sangat emosi. Pak Karno masih belum luluh dengan perkataan Aisyah. Namun hati kecilnya tak bisa melihat anak satu-satunya sedih dihadapannya. Akhirnya Pak Karno memberi pilihan kepada Aisyah. Ia boleh kuliah dengan jurusan pendidikan dan bukan kedokteran. Aisyah sudah merasa lega. Namun tetap hatinya memilih kedokteran.
     Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan Aisyah memilih pendidikan. Tak lama setelah ujian masuk, pengumuman kelulusan keluar. Nama Aisyah sama sekali tak muncul dalam daftar siswa lulus masuk perguruan tinggi. Ia mencari namanya berkali kali, hampir tiga kali ia mengulang. Akhirnya setelah lama mencari Aisyah menemukan namanya. Ia diterima di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonrsia. Ia gembira seketika meskipun program studi tersebut bukanlah pilihan hatinya.
     Di awal pendidikan Aisyah sangat susah untuk beradaptasi dengan mata kuliah yang ada. Ia hampir menyerah. Namun perkataan ibunya selalu terngiang-nguang di ingatannya. "Ibu yakin, kamu bisa sukses dengan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di luar sana masih banyak yang tidak seberuntung kamu, nak. Semangat dan jangan mudah putus asa", perkataan Bu Titin 4 bulan sebelum meninggal membuat Aisyah tak bisa membendung tangisnya jika teringat akannya. Sekarang yang ia punya hanyalah bapaknya. Pak Karno merupakan bapak yang benar-benar bertanggung jawab bagi Aisyah. Ia tak pernah mengeluh meski harus bekerja di usia senjanya dan harus mengurus rumahnya sendiri karena Aisyah tinggal di kota dekat dengan kampusnya. Setiap bulan Aisyah berusaha untuk pulang dan mengunjungi bapaknya. Ia tak tega melihat bapaknya yang mulai sakit-sakitan. Namun ia juga bertekad untuk membahagiakan dan membuat bangga bapaknya.
     "Bu, saya izin ke toilet", suara anak perempuan dengan lesung pipinya mengagetkan Aisyah. Aisyah langsung melihat jam tangannya. Ternyata sedari tadi ia melamun membayangkan hal yang dulu terjadi padanya ketika melihat para mahasiswa perawat memakai seragam perawatnya. Ia menjadi teringat perjuangannya yang ingin menjadi seorang dokter namun tak direstui orang tuanya. Kini Aisyah menjadi seorang dosen di sebuah Universitas keperawatan di Yogyakarta. Ia menjadi dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Ia bangga karena restu orang tuanya membawanya menjadi seorang dosen yang membanggakan bagi sang bapak. Kini Pak Karno tinggal bersama Aisyah dan menantu serta cucunya. "Silahkan", jawab Aisyah mempersilahkan mahasiswa tersebut. Waktu mengajar telah usai. Aisyah mengemasi barang yang ada di mejanya. Tak lupa ia mengucap salam pada para mahasiswa. Ia pun meninggalkan ruang kelas dengan pikiran masih menerawang masa lalunya yang penuh dengan perjuangan.
     Setelah sampai di ruang dosen, tiba-tiba handphone milik Aisyah berbunyi. Ternyata itu adalah telepon masuk dari Dr. Hana. Dari dulu sampai sekarang Aisyah memang masih tetap bersilaturahim dengan Dr. Hana. "Assalamu'alaikum dok", Aisyah memulai pembicaraan. "Wa'alaikumussalam. Bagaimana kabarmu Is? Hari ini saya ada waktu luang. Rasanya sudah lama tak bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu di tempat yang dulu kita pernah bertemu?", tanpa basa-basi Dr. Hana langsung mengutarakan keinginannya. "Wah Dr. Hana tahu saja kalau saya juga ingin bertemu dengan Dokter. Kalau begitu setelah ashar, saya hubungi dokter lagi. Saya sudah tidak sabar bertemu dengan dokter", Aisyah menjawab dengan nada semangat. Ingatannya semakin kuat tentang masa lalunya. Ia sangat bersyukur hidup dalam keluarga yang begitu menyayanginya. Ia juga sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Dr. Hana yang selalu memberinya motivasi.
     Semakin hari Aisyah semakin bersyukur karena dilahirkan dalam keluarga yang penuh perhatian. Karena ridho orang tuanya lah, Aisyah mampu membuktikan bahwa dirinya dapat sukses dengan potensi yang dimiliki. Hidup memang tak selalu sejalan dengan hati. Namun yakinlah bahwa hati yang teguh akan menjalankan hidup. Dan itu pilihan hatimu. Aisyah bersyukur.

Cerpen dalam diam ini merupakan cerpen ketiga yang saya tulis dalam blog dan dibuat di sela-sela tugas kuliah. Cerpen singkat ini saya buat sebagai bahan lomba menulis cerpen. Namun, karena alasan tertentu saya tak melanjutkannya. Masih banyak kekurangan dalam penulisan cerpen ini dan penulis sangat menyadarinya. Maka dari itu, penulis mengharap saran dan kritik dari para pembaca. Terima kasih.

Instagram 👉 sintiyadwi
Facebook  👉 Sintiya DY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar