Kamis, 19 Oktober 2017
Senin, 16 Oktober 2017
Rabu, 11 Oktober 2017
Contoh Paragraf Berdasarkan Jenis
2. Kebakaran yang terjadi di perumahan elit Graha Unik tak menimbulkan korban jiwa. Para pemilik rumah hanya mengalami luka ringan. Tim pemadam kebakaran yang datang setengah jam setelah kebakaran pun, berhasil menjinakan si jago merah. Setelah di teliti, kebakaran yang terjadi pada hari Jumat, 5 Agustus 2017 itu, timbul akibat arus pendek listrik pada salah satu rumah.
3. Pengajian yang diadakan oleh remaja islam Masjid Agung Jawa Tengah atau yang biasa disebut Risma-JT, berhasil menuai rekor muri. Dengan jumlah jama'ah 500.000, Masjid Agung Jawa Tengah dipadati ribuan manusia pada hari Rabu. Panitia yang melayani pun sempat kekurangan persediaan makanan untuk para jama'ah. Namun, 2 jam setelah itu, mereka langsung memenuhi persediaan dengan membeli pada pedagang yang berada di depan masjid.
1. Lawang sewu terletak tepat di depan taman Tugu Muda Semarang. Merupakan lokasi yang strategis karena berada di tengah kota. Gedung penuh sejarah dengan banyaknya pintu yang tak genap seribu itu, selalu menarik perhatian wisatawan. Lingkungan yang bersih dan sejuknya pemandangan, menjadi daya tarik sendiri.
2. Dengan gaun pengantin putih, ia duduk bersama mempelai pria. Gaun dengan renda merah jambu nampak pas di badannya. Bagian belakang gaun yang menjuntai panjang sempat dirapikan bersama sang suami. Ditambah riasan pengantin yang sederhana membuat wajahnya berseri-seri.
3. Malam ini adik tak seperti biasanya. Wajahnya muram setelah beradu argumentasi dengan ayah. Gigi gerahamnya beradu tanda emosi. Sorotan matanya tajam seperti ingin menerkam. Tangannya mengepal dengan kuatnya. Dengan tak sadar, tangannya memukul-mukul pagar rumah yang terbuat dari kayu.
1. Kemacetan di jalan Gajah Raya hampir setiap hari terjadi. Hal tersebut dikarenakan jalan yang terlalu sempit. Kemacetan dapat dihindari apabila ada buka tutup jalur menuju jalan tersebut. Dan yang terpenting adalah adanya tindakan koordinasi dari kepolisian dalam mengatur lalu lintas. Sedangkan di sisi lain, para pengendara motor agaknya lebih sadar dengan kepadatan lalu lintas, sehingga tak selalu menggunakan kendaraan ketika menempuh perjalanan dekat.
2. Semarang merupakan ibu kota Jawa Tengah. Dalam kemajuan kotanya, ada satu hal yang membuat dada ini terenyuh. Trotoar jalan yang kini tertutup oleh pedagang-pedagang pinggiran dan parkiran-parkiran ilegal, membuat para pejalan kaki tersisih. Seharusnya ada tindakan tegas baik dari pemerintah kota maupun petugas yang biasa menangani masalah tersebut. Trotoar adalah hak pejalan kaki yang harus dipenuhi. Maka tak ada alasan untuk mengambil apa yang telah menjadi hak pribadi.
3. Banyak anak-anak di bawah umur berkeliaran di jalan raya menggunakan sepeda motor. Sebagai madarasah pertama, seharusnya orang tua lebih peduli akan sikap tegas yang ditanamkan kepada anaknya. Bukan hanya masalah moral atau nilai disiplin, melainkan keselamatan jiwa yang menjadi taruhan. Namun, seperti tak peduli, banyak orang tua yang lebih menekankan pada gaya hidup dibanding kebutuhan utama anak.
1. Dengan adanya tong sampah yang dapat membuka secara otomatis, para siswa SMA N 1 Semarang menjadi lebih peka terhadap kebersihan lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat dari taman-taman dan ruangan-ruangan di sekolah yang bersih tanpa sampah. Para siswa pun mengaku, bahwa tong sampah yang dapat membuka secara otomatis ini telah meningkatkan kedisiplinan mereka dalam menjaga lingkungan terutama di sekolah.
2. Seiring dengan diberlakukannya E-Tilang atau elektronik tilang menggunakan CCTV, pelanggaran yang terjadi semakin menurun. Dalam wawancara yang dilakukan, para polisi pun mengaku, mereka sangat jarang menemukan pelanggaran yang biasa dilakukan oleh pengendara motor maupun mobil. Hal itu karena penggunaan CCTV lebih akurat dalam menilai sebuah pelanggaran, sehingga tidak ada yang saling dirugikan.
3. Tanaman kumis kucing telah digunakan masyarakat sebagai obat yang dipercaya dapat menurunkan darah tinggi atau hipertensi. Hal itu terbukti dari penelitian yang menjelaskan adanya kandungan senyawa kimia yang berkhasiat untuk berbagai pengobatan. Mengingat banyaknya manfaat dari tanaman ini, banyak sekali orang menggunakannya sebagai pengobatan tradisional atau herbal. Bahkan mereka membudidayakannya di pekarangan rumah.
1. Kebersihan lingkungan bukanlah tanggung jawab pekerja kebersihan saja, melainkan tanggung jawab kita semua. Kalau bukan kita lalu siapa? Kalau bukan sekarang lalu kapan? Mari kita bentuk pribadi bersih dari diri sendiri. Mari kita ciptakan generasi penerus bangsa yang peduli dengan lingkungan. Bumi adalah rumah kita dan langit adalah atapnya. Maka jagalah kebersihan rumah kita dengan penuh kesadaran.
2. Ilmu merupakan bekal untuk menghadapi masa depan. Dengan ilmu, kita bisa! Dengan ilmu kita mampu! Ciptakan masa depan cemerlangmu dengan ilmu. Buatlah masa depanmu indah bersama ilmu. Tak ada rugi menuntut ilmu. Selama nyawa masih bersama badan, kejarlah sekencang-kencangnya ilmu itu. Bersama ilmu kita padu.
3. Hutan menjadi salah satu penyumbang besar dalam keberlangsungan kehidupan. Sebagai pembentuk oksigen dan penyerap air, hutan bukanlah sesuatu yang sepele. Namun, banyak masyarakat belum menyadari hal tersebut. Banyaknya kebakaran hutan menjadi bukti. Bagaimana dengan nasib anak cucu kita nanti? Masihkah ada penyumbang oksigen di bumi ini? Mari wariskan anak cucu kita dengan menjaga hutan. Tunjukan pada mereka bahwa kita bukanlah seorang perusak.
Minggu, 25 Juni 2017
New mini Cerpen
Tangis
By: Sintiya Dwi Yuniati
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang
Tepat dihari kemerdekaan, di mana kebanyakan orang merayakan dengan penuh suka cita, tanda bahagia. Semua larut dengan warna-warni air dalam plastik es yang digantung di ranting-ranting pohon. Kecuali rumah Renita seorang mahasiswa hukum dan adiknya Fika. Polos tak berhias dan tak tercium bau kebahagiaan. Rasanya, tak bergairah hari itu Renita maupun adiknya, Fika untuk beranjak menghias rumah seperti tahun-tahun biasanya. Rasa tak bergairah itu, semakin berlanjut kala pagi menjelang. Renita yang akrab dipanggil Reni dan Fika tengah mempersiapkan sarapan pagi bersama mamahnya. Reni yang lebih dekat dengan mamahnya, merasakan ada sesuatu yang aneh pada mamahnya. Ia tak melihat sosok ceria dan penuh tawa yang selalu menghiasi lingkar wajah mamahnya. Ingin sekali ia menanyakan apa gerangan yang terjadi, namun kata itu tak sampai di mulutnya. Suasana rumah kini berbeda. Seakan-akan semua orang, baik Reni, Fika, maupun Mamah Yuli merasakan hal yang sama. Fika yang biasanya ceria tak nyaman dengan keadaan itu. Ia berhenti sejenak dari pekerjaannya mengelap meja makan, matanya melirik ke arah luar melewati jendela dengan dua daun jendela yang terbuka. "Tahun ini tak seperti tahun-tahun biasanya. Kita selalu jalan-jalan dan bersenang-senang. Tapi, kenapa hari ini tidak ada rencana keluar, dan bahkan sepi seperti ini", ucap Fika tiba-tiba dengan wajah datar yang masih mengarahkan dirinya ke arah jendela. Entah apa yang dipikirkan Fika kala itu. Dengan polosnya, kata-kata itu keluar lancar dari tenggorokannya. Mamah Yuli dan Reni langsung menghentikan aktivitasnya saat itu pula. Pandangan mengarah ke arah Fika. Entah mengapa, mamah Yuli langsung bergegas pergi menuju ke kamarnya. Suasana semakin hening, tak ada suara sedikitpun. Fika masih menatap ke arah jendela dan sang kakak, Reni menatapi mamahnya mengikuti langkahnya pergi sampai pintu kamar tertutup rapat.
Reni sebagai kakak merasa tak punya daya. Ia merasa kali ini dirinya tak dapat berbuat apa-apa. Badannya kaku seperti ada yang mengikat tubuhnya, mulutnya membisu seperti ada yang menyumpal mulutnya. Namun, dalam hatinya berteriaklah ia sekeras-kerasnya. Ada apa hari ini? Kenapa dengan keluarga ini? Tanyanya keras dalam hati.
Hampir 7 menit ruangan itu seperti rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. Sayup-sayup terdengar bunyi terompet dan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan anak-anak tentangga dengan polosnya. Cuaca di luar yang panas tak mempengaruhi keadaan. Semua bersikap dingin, diam satu sama lain. Dari beberapa menit berdirinya, dengan pelan, Fika menjatuhkan badannya di atas sebuah kursi yang tepat berada di belakangnya. Wajahnya tak berpaling, seakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan keadaan di luar lewat jendela itu. Tatapannya kosong, namun air mata meleleh dari mata ovalnya itu. Perempuan SMA itu seperti tak sadar akan tangisnya.
Tatapan Reni teralihkan dengan gerakan Fika. Ia menatap ke arah adiknya. Fika menyadari adiknya menangis. Ia tak menghampiri Fika, karena ia tahu hatinya tak sekuat adiknya. Namun, tak kuat hati melihat adik kandungnya menangis sendiri, dengan cepat Reni berlari menghampiri Fika dan langsung memeluk adiknya dari belakang. Air mata mereka berdua beradu seakan-akan mereka berlomba-lomba untuk mengeluarkan air mata yang merupakan kesedihan itu. "Maafkan Kakak, Fik. Kakak tak bisa sekuat kamu. Berdo'alah agar hal ini tak terjadi pada kita kelak", jelas Reni dengan tangisnya yang semakin memecah. "Kita tak boleh seperti ini, Kak", jawab Fika singkat sembari menguatkan pelukannya pada sang kakak.
Tak lama setelah menenangkan adiknya, terpikir oleh Reni akan sang mamah. Tak ada tanda-tanda mamahnya akan keluar dari kamar, membuat hatinya mengarahkan perhatian ke kamar itu. Dengan pelan Reni melepaskan pelukan dari adiknya. Dengan langkah pelan ia menuju kamar mamahnya. Tepat delapan langkah Reni menginjakan kakiknya di depan daun pintu, tak terdengar suara dari dalam kamar. Reni mengetuk pintu kamar dengan tiga kali ketukan yang lemah. Matanya menuju ke arah gagang pintu, seakan menunggu gagang tersebut bergerak ke bawah tanda dibukakan pintu oleh sang mamah. Satu menit ia terdiam tanpa sepatah kata pun. Akhirnya ia menggerakan tangannya ke arah gagang pintu, dan langsung membuka pintu itu. Sadar tak terkunci, ia langsung membukanya. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan mamahnya. Di depan jendela kamar, ia mendapati mamahnya tergeletak dengan darah mengalir dari pergelangan tangannya. Matanya membelalak, tak percaya apa yang dilihatnya. "Mamaaah...", dengan sekuat tenaga ia menghampiri mamahnya sembari berteriak diiringi tangis. Reni tersungkur, mencoba membangunkan mamahnya. Dari tangan mamahnya ia mendapati kertas yang terlihat masih basah tintanya. Fika yang sedari tadi duduk terdiam langsung menuju ke arah kamar. Dari daun pintu, matanya langsung menemukan tubuh sang mamah yang tergeletak. Air matanya langsung tumpah tak terbendung.
Malam kini hening, senyap, dan tak bersahabat. "Mamah telah tenang menyusul Papah. Tinggal kita, Kak", ucap Fika dengan wajah penuh haru sembari memeluk foto keluarga. Di depannya, sang kakak, Reni menangis tersedu-sedu tak kuat menahan rasa sedih yang tengah menimpa dirinya. Ia tak menjawab ataupun menimpal balik perkataan adiknya, hanya tangisan yang kian menguat seakan mewakili jawaban hatinya.
Ayah Reni dan Fika yang biasa dipanggilnya ayah meninggal satu tahun yang lalu. Ayahnya meninggal akibat serangan jantung mendadak, setelah melihat dengan mata kepala sendiri istrinya yang tak lain merupakan mamah Yuli selingkuh dengan rekan kerjanya. Kejadian itu tepat di hari kemerdekaan dan hal tersebut disaksikan pula oleh Reni dan Fika. Setelah kejadian itu, Reni dan Fika hampir tak pernah menegur mamahnya. Mereka seperti tak terima ayah yang mereka sayangi meninggal akibat perselingkuhan mamahnya sendiri. Bahkan Fika, sempat tak menganggap mamahnya itu sebagai mamah kandungnya. Selama itu pun mamah Yuli menjadi seorang yang pendiam dan penyendiri. Ia merasa hidupnya tak lagi berarti. Bahkan ia merasa jijik dengan dirinya.
Tangis Reni mulai mengecil. Ia menjadi teringat kertas berisi tulisan yang terakhir dipegang sang mamah. Reni menuju sebuah lemari dan membuka laci kecil yang ada di dalamnya. Langsung ia mengambil kertas itu dan membacanya sembari menempatkan diri di sebelah sang adik. "teruntuk anak-anakku tersayang, Reni dan Fika. Aku tahu aku bukanlah mamah yang baik untuk kalian. Bahkan rasanya tak pantas bila aku dipanggil mamah. Aku malu, aku malu pada diri ini yang sudah merenggut kebahagiaan kalian, yang sudah membuat kalian tersiksa dengan keadaan yang ada. Reni, mamah tahu kau anak yang kuat. Jagalah adikmu, Fika. Untuk Fika, jadilah anak yang pintar. Maafkan mamah nak. Mamah sayang kalian. Salam terakhir dari Mamah", tangis Reni muali pecah. Kertas itu ia berikan pada Fika, dan langsung ia membacanya. Reni dan Fika berpelukan erat. Tangis mereka bersautan satu sama lain. Kertas itu adalah surat terakhir dari sang mamah.
Puisi Kenangan
Lampau
By: Sintiya Dwi Yuniati
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Srmarang
Di ujung daun pintu ini diriku menerka gelap
Mencari cahaya diantara samar pandangan
Titik-titik cahaya berpendar dari jauh
Tak adakah satu yang mampu kuraih
Untukmu, untuknya, atau untukku
Kiri kanan tak ada beda rupa suasana
Dedaunan hijau berubah gelap mengikuti malam
Menutupi sorot cahaya yang mencoba menerobos barisan
Membentuk lingkaran kecil tak tahu asal
kini hitam putih menggelayut dipelupuk
Suara abstrak manusia mengiringi hening malam
Adakah masih seperti lampau
Ketika semua tubuh kecil berlarian mencari tubuh kecil lainnya
Adakah masih seperti lampau
Ketika ada rumah rumah kecil dari terpal seadanya dengan rangka bambunya yang sederhana
Tergerus sudah masa penuh dengan tawa canda
Melalui alur waktu, hilang hanya tinggal tulisan pena dan kenangan tak berbicara
Mungkinkah akan kembali dan terulangi
Minggu, 07 Mei 2017
Prosa
Sintiya Dwi Yuniati
16410158
2 D ( PBSI )
Menganalisis unsur intrinsik cerpen Robohnya Surau Kami dengan menggunakan teori Robert Stanton
1. Tema
Seorang kakek yang terlibat dalam pergulatan batinnya mengenai apa yang dilakukannya di dunia setelah mendengar bualan dari Ajo Sidi. Hal ini tergambar pada penggalan:
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah subhanahu wata'ala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah tuhan kalau itu yang kulakukan sangkamu?"
2. Fakta Cerita
a. Alur
Alur dari cerpen "Robohnya Surau Kami" menggunakan alur sorot balik. Hal ini dapat terlihat dalam penggalan cerita berikut :
"Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar"
"Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya"
"Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatanga Ajo Sidi kepadanya"
b. Karakter
Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, terdapat beberapa karakter yang muncul secara intens, seperti : tokoh utama yaitu Ajo Sidi. Mengapa ia disebut tokoh utama? Karena tokoh Ajo Sidi mempengaruhi jalannya cerita dan adanya konflik akibat kemunculannya. Ia merupakan tokoh yang mempunyai karakter tukang bual, suka mempengaruhi orang lain, dan tidak bertanggung jawab. Hal tersebut dapat terlihat dari :
...Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu.
Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.
...Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab.
Sedangkan tokoh bawahan yaitu Kakek yang mempunyai karakter mudah percaya dengan perkataan orang lain, egois, dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Hal ini dapat dibuktikan melalui penggalan cerpen, yaitu :
“…Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji dia. Aku baca kitabnya…”
“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya”
Haji Saleh mempunyai karakter yang sombong, egois dan memprovokatori. Hal itu dapat terlihat dari :
“Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu”
“…Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga”
c. Setting (latar)
a. Latar tempat
• Surau tua disebuah kampung, dekat pasar. Berikut bukti penggalan:
"....Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti Tuan akan temui sebuah surau tua..."
• Di akhirat, di neraka
Pada suatu waktu Ajo Sidi memulai. "Di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang"
"...Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka..."
• Di rumah tokoh Aku
"Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi"
• Di rumah Ajo Sidi
"Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya"
b. Latar waktu
• Beberapa tahun yang lalu. Berikut bukti penggalan:
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar.
• Malam hari
Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
• Sekali hari
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek.
• Pagi-pagi
"Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi
• Subuh
"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya..."
c. Latar suasana
• Suasana begitu religius. Hal tersebut digambarkan melalui:
Dan dipelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.
• Tegang
Tak pernah aku melihat kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu.
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka.
• Mengerikan
“Ya. Tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur”
• Memprihatinkan
Sebagai penjaga surau, kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-jumat.
3. Sarana Cerita
a. Judul
Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Dalam analisis kali ini, cerpen berjudul Robohnya Surau Kami. Judul tersebut menggambarkan mengenai seorang Kakek yang sangat taat dalam beribadah namun karena taatnya ia lalai dengan keluarganya. Hal itu disadarinya ketika seorang bernama Ajo Sidi memberikan bualan padanya mengenai cerita yang sama seperti hidupnya. Yang dimaksud roboh disini bukan karena surau tua yang ditinggalkan Kakek, tetapi lebih kepada keyakinan yang runtuh.
b. Gaya (style)
Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah „tone‟. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007:63). Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, tone dapat terlihat melalui majas-majas yang terlihat seperti majas alegori, yaitu majas yang memepertautkan satu hal atau kejadian lain dalam satu kesatuan yang utuh. Contohnya dalam judulnya yaitu Robohnya Surau Kami. Yang dimaksud roboh yaitu bukan hanya surau yang tua akibat terbengkalai tetapi juga keyakinan sang kakek. Kemudian majas parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama, moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini. Selain majas alegori atau parabol, pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi….”.
c. Sudut pandang
Sudut pandang dalam cerpen ini yaitu orang pertama-utama. Karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah tokoh Aku. Hal tersebut karena tokoh Aku merupakan tokoh yang mengetahui semua jalannya cerita. Hal ini dapat terlihat dari :
Sekali hari aku datang pula mengupah kakek.
…Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu.
“Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya”
d. Simbolisme
Simbol yang terdapat dalam cerpen ini adalah terdapat dalam judulnya yaitu Robohnya Surau Kami. Cerpen ini menceritakan seorang kakek yang menjadi garin di sebuah surau tua. Ia sangat taat dalam ibadahnya. Namun dalam ketaatannya dalam beribadah ia dihantui rasa khawatir akibat bualan Ajo Sidi yang membual kepada kakek mengenai Haji Saleh yang masuk neraka akibat terlalu taat dalam ibadah tetapi melalaikan keluarganya. Akibat hal tersebut, sang kakek meninggal bunuh diri. Dari inti cerita tersebut yang dianggap roboh yaitu bukan hanya surau melainkan keyakinan seseorang dalam ibadahnya.
e. Ironi
Dalam cerpen ini sangat jelas tergambar ironi yang ada. Yaitu seorang kakek, Haji Saleh, dan teman-temannya yang berada di akhirat sudah meyakini bahwa dirinya akan masuk surga karena ketaatan mereka dalam beribadah. Namun ketika di pengadilan akhirat ternyata mereka di masukkan ke dalam neraka akibat kesombongan, kealaian mereka menelantarkan keluarga dan tak memanfaatkan tanah tempat tinggalnya yang subur.
Sabtu, 06 Mei 2017
Ngopi Puisi bersama Setia Naka Andrian
Penikmat Ngopi bukan Kopi
Ngopi Puisi memang tak asing lagi bagi mahasiswa UPGRIS. Kegiatan seni yang diadakan mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini, merupakan agenda rutin yang terus diselenggarakan. Kegiatan yang berisi uraian sastra dari para sastrawan yang tak diragukan lagi karyanya membuat acara Ngopi Puisi menjadi semakin menarik dan energik. Tak hanya mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia saja yang dapat menghadiri acara tersebut, semua program studi pun bisa datang bahkan dari luar kampus di izinkan asal sopan tentunya.
Mengapa disebut Ngopi Puisi? Hal tersebut karena dalam acara itu, kita bukan hanya diajak untuk menikmati puisi-puisi ataupun pembuatan-pembuatan puisi yang memang diadakan. Kita juga disuguhi kopi dan cemilan sederhana seperti kacang rebus, singkong rebus, dan pisang rebus. Jajanan yang tak mewah tetapi megah bagi penikmatnya.
Malam Jumat itu, Setia Naka Andrian yang merupakan sastrawan muda sekaligus dosen di UPGRIS, mengisi acara dengan apiknya. Dengan kaos polos merah yang bertuliskan "Sastrawan mana yang tak romantis?" mendukung suasana dan uraiannya mengenai puisi yang dijelaskan. Logat bicaranya yang seakan-akan sedang membaca puisi sembari menjelaskan bagaimana puisi tersebut membuat orang awam yang baru pertama kali melihat mungkin merasakan kebingungan. Namun, disitulah letak keunikannya.
Memanglah tak banyak yang saya dapatkan malam itu dalam Ngopi Puisi. Saya hanya mencoba menikmati suasana santai yang disuguhkan pada kesempatan kala itu. Suasana malam Jumat dengan alunan puisi yang dibacakan oleh beberapa mahasiswa dengan mantap dalam dirinya berdiri di depan dan membacakan sajak-sajak apik para saatrawan. Acara ringan sebagai olah raga bagi tubuh yang jarang dialiri seni ini, sangat memberi manfaat bagi saya.
Dengan diselingi kuis-kuis kecil dengan hadiah tak besar menjadi salah satu daya tarik. Acara Ngopi Puisi ini juga dapat dijadikan ajang perkumpulan mahasiswa yang haus akan seni. Mereka dapat bertukar pikiran dengan santainya. Tak jarang jenaka-jenaka dilontarkan pembawa acara untuk memeriahkan dinginnya malam.
Diselenggarakannya acara ini secara rutin semoga dapat menambah wawasan bagi mahasiswa. Dapat menjadi penikmat yang berbakat. Artinya bukan hanya penikmat biasa melainkan dapat menghasilkan karya-karya luar biasa setelah menjadi penikmat tadi. Tak ada hasil bila tak ada usaha. Maka berusahalah.